November 4, 2009 at 1:09 pm
· Filed under cerita, psikologi anak ·Tagged anak, berhitung, kedisiplinan, Pipis
Ada-ada saja perilaku yang lucu dari anak-anak. Sejak kelahiran adiknya, Kirana…saya mulai menanamkan agar Azmi sang kakak bisa pipis di kamar mandi dengan mandiri. Dulu dia selalu minta bantuan untuk menyiram pipisnya, sekarang alhamdulillah dia sudah bisa sendiri.
Tapi ada yang lucu, setiap saat dia pipis..selalu terdengar suara “satu(setelah dia menyiram satu gayung), dua..sampai sepuluh”. Karena saya awalnya bilang “yang banyak ya nak nyiramnya, biar nggak bau..” nggak taunya dia nyiram sampai sepuluh gayung…hehehe. Akhirnya saya kasih tahu lagi, “jangan banyak-banyak nyiramnya, empat aja…yang penting disiram semua…”. Ternyata kebiasaan menghitung setiap gayung yang dia siram, begitu tertanam dalam pikirannya. Mungkin karena dia takut salah, jadi setiap pipis…hitungan tiap gayung satu sampai empat itupun selalu terdengar. Saya dan papanya tertawa diam-diam setiap kali mendengarnya. Yah…apa boleh buat, kadang menanamkan kebiasaan yang baik dan kedisiplinan harus jelas supaya anak tidak salah memahaminya. Ada baiknya juga dia sambil berhitung, kemampuan numeriknya semakin terlatih. Kak Azmi piter ya sayang…hehehe…mama papa bangga karena sekarang kakak lebih mandiri sejak adik Kirana lahir.
Permalink
October 28, 2009 at 6:23 am
· Filed under cerita, psikologi anak ·Tagged garuda di dadaku, motivasi berprestasi, nasionalisme, sepakbola, sportif
Beberapa hari ini, film yang
dilihat azmi hanyalah GDD, Garuda Di Dadaku. Ia begitu senang dan antusias menirukan ekspresi setiap pemainnya, terutama Bayu sang pemain bola berbakat. Film ini begitu baik disajikan lengkap dengan konflik yang sangat realistis dan mudah dipahami oleh anak-anak. Semangat nasionalisme juga sangat kental mewarnai film GDD ini, sehingga bisa menjadi inspirasi bagi anak-anak Indonesia untuk mencintai bangsa dan negaranya terutama di tengah derasnya arus globalisasi yang bisa melunturkan rasa nasionalisme anak-anak.
Seringnya menonton film itu, membuat Azmi terobsesi ingin menjadi pemain bola. Wah, saya jadi ingat Eyangnya yang memang dulu seorang pemain sepakbola. Bagi saya dan suami, semangat itu sayang jika dilewatkan begitu saja. Seorang anak yang menyukai olah raga akan terbangun jiwa sportif dan memiliki motivasi berprestasi yang tinggi. Hal ini sangatlah penting untuk perkembangan mentalnya kelak. Dua hal tersebut juga dapat membantunya berhasil di bidang apapun, baik akademik maupun non akademik. Sebagai orang tua kami hanya berusaha memahami keinginannya, memberi dukungan dan membantu mewujudkan impiannya.
Permalink
October 26, 2009 at 10:52 am
· Filed under cerita, psikologi anak, renungan ·Tagged anak, emosi, ibu, orang tua
Itulah kata-kata anak lelaki pertamaku yang berumur 5 tahun dan sekarang telah memiliki seorang adik perempuan berumur hampir 2 bulan. Mungkin sekilas pertanyaan itu adalah pertanyaan yang biasa, namun aku sadar bahwa ada yang salah sehingga muncul kalimat itu darinya.
Sebagai Ibu, aku akhirnya berpikir bahwa apakah mungkin sejak kehadiran adiknya ada yang berubah. Iya, perhatianku kepadanya sepertinya berkurang. Biasanya setiap malam, dongengku selalu menemani tidurnya. Tapi sekarang, aku sering lelah dan tidak semangat mendongeng untuknya. Bagi seorang anak, hal yang simpel sungguh bisa menjadi hal sensitif dan dapat mempengaruhi perkembangan psikologisnya. Apalagi anakku adalah anak homeschooling yang sebenarnya sangat membutuhkan perhatian lebih dari orang tuanya, terutama ibunya yang berada di rumah dan sebagai tutor pendidikannya.
Oleh karena itu, sebaiknya bagi kita para orang tua yang sudah memiliki lebih dari satu anak hendaknya mengintrospeksi diri apakah kita sudah bersikap dengan tepat dan adil bagi anak-anak.
Apalagi menurut Hurlock dalam buku Psikologi Perkembangan (1997;116) tentang emosi yang umum pada awal masa kanak-kanak, seorang anak menjadi cemburu bila ia mengira bahwa minat dan perhatian orang tuanya beralih kepada sang adik yang baru lahir. Anak akan mengungkapkan kecemburuannya dengan berperilaku sedikit aneh dari biasanya, seperti pura-pura sakit, nakal dan semuanya itu bertujuan untuk menarik perhatian orang tuanya. Selain itu biasanya anak merasa sedih karena kehilangan kasih sayang orang tuanya dan biasanya diungkapkan dengan menangis serta kehilangan minat terhadap kegiatan normalnya, seperti makan dan belajar. Sedangkan bentuk emosi lain yang muncul pada masa kanak-kanak ini adalah kasih sayang. Anak-anak belajar mencintai orang, binatang atau benda yang menyenangkan baginya. Dalam hal ini kehadiran sang adik juga bisa menjadi salah satu objek, maka tidak heran jika ia sebagai kakak seringkali mencium, memeluk atau berusaha membantu adiknya. Meskipun kadang itu dilakukan secara berlebihan sehingga justru bisa mengganggu kenyamanan sang adik.
Kita sebagai orang tua tentunya ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak, dengan memahami kondisi mental perkembangannya maka kita akan lebih mudah memperhatikan mereka. Semoga kita semua selalu bisa menjadi orang tua yang terus lebih baik di mata mereka.
Permalink
October 26, 2009 at 5:54 am
· Filed under renungan, umum ·Tagged gempa, tindakan saat gempa
Setelah kejadian gempa di Pariaman, Padang masyarakat seolah terus dihantui rasa khawatir bahwa dirinya akan mengalami musibah yang sama. Ditambah lagi adanya tayangan di beberapa stasiun TV nasional yang menyiarkan adanya ramalan bahwa akan terjadi gempa lagi yang sangat dahsyat. Masyarakat rata-rata tidak mengetahui betul bahwa sampai hari ini di dunia belum ada alat yang bisa memprediksi kapan dan dimana akan terjadi gempa. Hanya perkiraan yang dihasilkan dari perhitungan ilmiah berdasarkan pergeseran lempengan di bumi serta wilayah-wilayah yang masuk jalur tersebut.
Jika mengingat hal itu, alangkah baiknya kalau di stasiun TV nasional ada program yang menayangkan tentang pengetahuan gempa, bagaimana gempa itu terjadi kemudian wilayah mana saja yang rentan, bagaimana mengantisipasi jika terjadi gempa dan apa yang bisa dilakukan setelah dampak gempa yang terjadi muncul. Sehingga masyarakat tidak mengalami kekhawatiran yang berlebihan dan menjadi lebih mengerti harus bersikap apa.
Informasi tentang gempa dapat kita peroleh baik dari televisi, internet, sekolah bagi anak-anak kita, perpustakaan, radio, media cetak atau bertanya pada orang yang lebih mengerti di sekeliling kita; misalnya suami, tetangga, teman kerja dsb.
Seharusnya kita lebih mau bertanya dan mencari informasi yang benar, agar tidak mengalami kekhawatiran yang berlebihan. Hal itu hanya akan membuat kita tidak tenang, stress, tegang, tidak berkonsentrasi dengan aktivitas sehari-hari dan cenderung bersikap irrasional.
Beberapa tindakan yang dapat kita lakukan saat gempa, bisa anda lihat pada alamat blog berikut ini:
http://fukha.blogspot.com
Semoga kita semua senantiasa dalam lindungan Allah SWT…amin.
Permalink
July 23, 2009 at 12:22 pm
· Filed under psikologi anak, umum
Hari ini tanggal 23 Juli 2009 kita bangsa Indonesia memperingati Hari Anak Nasional. Selamat ya Azmi sayang dan untuk seluruh anak Indonesia, semoga engkau kelak jadi pelita bangsa yang luar biasa…amin.
Sebagai orang tua, kita semua harus bangga telah dikaruniai buah hati yang seringkali menjadi inspirasi dan motivasi bagi kita untuk terus berusaha lebih keras dalam berkarya. Meskipun semua butuh kesabaran, keikhlasan serta dukungan dalam mengasuh dan mendidiknya, akan tetapi semua itu terasa semakin indah jika kita mensyukuri setiap detik perkembangannya. Baik perkembangan fisik maupun psikologisnya, semakin tumbuh besar, pintar, lucu, menggemaskan dan masih banyak lagi kata-kata lain yang bisa mengungkapkan bagaimana anak-anak berkembang dari waktu ke waktu.
Jika hari kita bersedia meluangkan waktu sejenak untuk melakukan evaluasi diri sebagai orang tua, maka insyaAllah esok kita akan bisa menjadi orang tua yang lebih baik dari hari ini. Semoga kita semua tidak akan pernah putus asa untuk berusaha terus meningkatkan kemauan dan kemampuan diri sebagai orang tua bagi tunas-tunas bangsa.
Permalink
July 17, 2009 at 3:37 am
· Filed under Materi Homeschooling, cerita, psikologi anak ·Tagged homescholing, materi homesch
Setelah kemarin azmi berhasil menjalani homeschooling selama satu semester, sekarang ini dia kembali melanjutkan homeschooling bersama mama dan papanya. Alhamdulillah..semua bisa dijalani, meskipun akhir-akhir ini agak sulit karena emosinya sedikit tidak stabil menjelang kehadiran calon adeknya.
Materi untuk homeschooling selanjutnya juga disesuaikan dengan perkembangan belajarnya dari satu semester kemarin. Hanya saja, supaya azmi tetap merasa enjoy meski sedang jealous karena akan punya adik..maka mama berusaha lebih fleksibel mengatur waktu belajarnya. Materi juga diusahakan lebih menyenangkan cara penyampaiannya.
Materi yang diberikan antara lain ; Iqro’4, pengetahuan agama Islam, menulis dan membaca, berhitung, pengetahuan alam, bahasa inggris, pengetahuan sosial serta masih banyak lagi materi pengembangan lain yang bersifat easy learning dan mengutamakan peningkatan kreatifitas anak.
Semoga semester ini lebih baik dari yang kemarin.
Permalink
July 3, 2009 at 12:48 am
· Filed under psikologi, renungan ·Tagged membuat nama bayi
Menunggu kelahiran sang buah hati memang banyak persiapan yang harus dilakukan. Salah satunya adalah menyiapkan sebuah nama terindah. Tapi ternyata, menyiapkan nama bukanlah hal yang mudah bagi orang tua. Ada beberapa pertimbangan yang harus dipikirkan. Antara lain :
* Menggunakan nama yang mempunyai arti baik, dengan harapan nama yang diberikan bisa sebagai doa untuk sang anak supaya kelak ia bisa menjadi orang sebaik namanya.
* Memberikan nama yang mudah dilafalkan dan ditulis akan lebih baik, supaya ia mudah menyebutnya terutama ketika masih kecil. Selain itu hal ini dapat mengantisipasi kesalahan dalam menyebutkan maupun menuliskannya.
* Terkadang disadari atau tidak, ada nama yang justru membuat seseorang tidak percaya diri. Entah karena merasa namanya kurang bagus, terlalu panjang, terlalu aneh atau karena sebab-sebab lainnya. Sehingga sebagai orang tua kita juga harus mempertimbangkan rasa percaya diri anak.
* Memberikan nama yang tidak sama dengan orang-orang sekitar, baik keluarga..tetangga..teman…atau siapa saja yang dekat dengan kita. Apabila nama yang diberikan sama, akan membingungkan yang punya nama ataupun yang memanggilnya. Ada baiknya jika sebelum membuat nama, cari tahu dulu nama-nama yang ada di sekitar kita.
Meskipun mungkin terkesan tidak mudah, namun menyiapkan sebuah nama untuk buah hati sangatlah menyenangkan..semoga kita bisa memberikan nama yang terbaik.
Permalink
June 18, 2009 at 12:48 pm
· Filed under Materi Homeschooling, cerita ·Tagged homeshooling
Alhamdulillah..senang melihat dia bilang “Yes, I did It..”. Azmi akhirnya menyelesaikan materi homeschooling selama satu semester, meskipun masih ada kekurangan disana sini..tapi sebagai anak dia sudah berusaha yang terbaik. Kami sebagai orang tuanya justru harus berusaha lebih baik untuk memperbaiki kualitas hidupnya demi masa depannya kelak.
Buat semua orang tua disana, jangan pernah berputus asa untuk berbuat sesuatu demi masa depan anak-anak kita. Sekecil apapun yang dapat kita lakukan untuk mereka akan sangat berarti baginya. Setiap hari kita harus selalu belajar menjadi lebih baik sebagaimana yang kita tanamkan kepada mereka untuk selalu semangat belajar.
Anakku..terima kasih engkau telah berusaha keras untuk belajar sama mama dan papa..semoga kita semua jadi manusia yang lebih baik dari hari ke hari..amin. Love U Honey..
Permalink
May 9, 2009 at 1:09 am
· Filed under Materi Homeschooling, psikologi anak ·Tagged golden age, kecerdasan anak
Kecerdasan anak menjadi salah satu unsur tumbuh kembang yang sangat penting. Sebagai orang tua kita bisa melakukan banyak hal untuk membantu perkembangannya, terutama di usia 1-5 tahun pertama sebagai the golden age. Salah satu yang bisa kita lakukan adalah dengan membantu sang buah hati untuk selalu mengingat informasi-informasi atau kejadian-kejadian yang pernah masuk dalam memori otaknya.
Beberapa contoh bimbingan yang dapat kita berikan untuk si kecil, antara lain sebagai berikut ;
* Menggunakan flash card atau buku bergambar untuk mengingat kosakata yang pernah ia dengar.
* Membuka album keluarga untuk mengingat siapa saja anggota keluarga yang ia miliki, melihat bagaimana perkembangannya dari baru lahir hingga sekarang. Selain itu jika ia sudah memasuki playgroup dapat juga membuka album foto lain untuk membantunya mengingat teman-teman atau pendampingnya di sekolah sekaligus bisa mengajaknya mengingat kejadian-kejadian yang sedang berlangsung dalam foto-foto tersebut.
* Mengajaknya kembali ke tempat-tempat yang pernah ia kunjungi, misalnya rumah nenek, saudara, teman, tempat-tempat rekreasi, dsb. Jika memungkinkan, bawalah kembali foto-foto yang pernah diambil untuk membantunya mengingat saat ia pernah diajak ke tempat tersebut.
* Meluangkan waktu bersama untuk berkunjung ke toko buku, supaya ia selalu dapat ilmu dan informasi baru.
Masih banyak lagi hal-hal lain yang bisa kita lakukan, kreatifitas sangatlah penting untuk membantu buah hati kita melatih kecerdasan otaknya.
Permalink
Older Posts »